September Khansa Ceri@

Perpisahan dalam pasutri bisa jadi solusi terbaik bagi orangtua, namun pasti meninggalkan luka bathin bagi anak, yang akan memengaruhi kondisi mental dan emosi anak di masa depan. Apapun alasannya, segala pembenaran di kedua belah pihak, biarlah ini menjadi urusan orangtua. Yang perlu diperhatikan, berikutnya adalah apa tindakan yang harus dilakukan setelah perpisahan. Orangtua yang berpisah namun tetap saling menghargai dan tetap berbagi tugas dan tanggung jawab untuk mendidik dan membesarkan anak mereka dengan penuh kasih sayang. Sudah seharusnya menyadari sepenuhnya bahwa mereka yang bermasalah dan dibutuhkan kedewasaan sikap, tentu sangat positif bagi perkembangan anak.

Inilah yang banyak kita jumpai, mantan suami atau istri yang setelah berpisah berupaya keras untuk mempengaruhi anaknya untuk memihak kepada salah satu dari mereka. Orang tua anak diantaranya ayah dan ibu, terus menjelek-jelekkan satu sama lain, yang notabene adalah orang tua bagi anak tersebut. Tanpa sadar, mereka ini telah memasang bom waktu dipikiran bawah sadar anak yang nantinya akan sangat menghancurkan kehidupan anaknya. Banyak anak yang akhirnya terpengaruh dengan kondisi yang memaksa hidup mereka penuh penderitaan. Anak tidak bersalah, orangtua-lah yang memiliki masalah, orang tua-lah yang membuat anak mereka bermasalah. Anak tidak pernah minta dilahirkan. Dan bila ia telah lahir ke dunia ini maka berikanlah hak yang ia bawa sejak lahir yaitu hak untuk mendapat perhatian, kasih sayang, cinta, dukungan, pendidikan yang manusiawi dan memberdayakan serta penghidupan yang layak dan bermakna.

Permusuhan bisa saja terjadi setelah hubungan pernikahan berakhir dan istilah mantan menjadi sebutan baru. Tingkah laku mantan pasca perceraian, bisa dicap sebagai penghianat, pembohong, munafik dsb, bahkan menganggap keputusan dan pikiran dirinya jauh lebih baik dari mantannya. Memang keadaannya memaksa seperti itu, rata-rata orang melakukan hal ini pada mantannya karena tidak ingin mantan merasa hidup tenang atau bahagia. Ada rasa dendam, namun bukan berarti itu harus dibalas, dengan menjelek-jelekan mantan kepada orang lain bahkan kepada anak untuk membuat mantan tampak buruk. Secara langsung atau melalui jalan belakang, merupakan tindakan yang tidak baik. Hal itu justru bisa membuat diri sendiri tampak buruk. Memang terkadang saat masih berhubungan, sebuah rahasia bisa saja tetap terjaga, namun pasca bercerai, rahasia bisa terkuak dengan sendirinya.

Mengganggu mantan setelah mantan memiliki hubungan baru dengan orang lain bisa saja dilakukan. Berusaha mengingatkan masa indah yang sudah berlalu. Tentu saja dengan tujuan untuk membuat pasangan baru cemburu. Itu bisa berakibat buruk karena perpisahan adalah hal yang terburuk. Anak bisa saja menjadi alasan mantan untuk selalu mengganggu, tragisnya lagi, mantan bisa menanamkan isme negatif akibat rasa benci dan dendam terhadap mantan. Pengorbanan diri yang sudah diberikan sebelum perceraian, bisa terus diungkit, bisa jadi untuk menutupi kesalahannya sendiri. Ini sangat menjengkelkan, kalau saja berwujud barang mungkin masih bisa dicarikan solusi. Tapi jika itu merupakan sebuah perlakuan dan tindakan, akan sangat sulit untuk melakukan kembali sebagai wujud balasan. Posisi dia sudah menjadi mantan sekarang, apabila hal itu terjadi, maka saat itu (sebelum bercerai) berarti dia tidak iklhas dalam memberikannya.

Ini bisa menjadi tindakan konyol, meskipun belum mungkin, tapi hal ini bisa saja terjadi. Saat kita ingin memulai atau sudah memiliki hubungan baru, mantan selalu muncul dan berusaha meracuni pikiran orang baru yang terkait. Mantan berusaha untuk membuat kita lepas atau gagal dengan orang baru tersebut. Seperti terjadi pada pria yang sudah pernah menikah pasti akan sesekali berinteraksi dengan mantan istrinya, terlebih lagi jika berhubungan dengan anak. Tidak ada salahnya untuk berinteraksi dengan mantan istri dalam hal kepentingan bagi anak, karena itu memang adalah tanggungjawab sebagai seorang ayah bagi anak-anaknya.

Tidak perlu untuk membalas atas tindakan mantan, apalagi keburukan yang pernah dilakukannya. Kita tentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Cukuplah berdua yang menyimpannya masing-masing. Jika memang sudah berakhir, tutuplah cerita bersama serta simpanlah semua yang terjadi diantara berdua termasuk soal kekurangan dan keburukannya. Bagian jelek-menjelekan sebenarnya tidak penting untuk perlu dibahas, karena tidak akan menjadikan semuanya menjadi baik seperti sedia kala. Namun soal sudut pandang bisa jadi kepada siapapun menjadi dis-orientasi, menjadi benar-benar memiliki pandangan buruk soal mantan, dan kemudian diam-diam ikut menyalahkan.

Menjelek-jelekan mantan dengan mengatakan kekurangan dan keburukannya pada orang lain bukan cara bijak ketika memang sudah sama-sama berpisah. Belajarlah untuk menerima keadaan dan maafkan-lah semua yang pernah terjadi. Sesakit apapun, toh perpisahan adalah risiko yang harus tanggung ketika pasca perceraian. Sangat tidak ada gunanya menjelek-jelekkan mantan, apalagi sampai dibuat status di media sosial. Seolah dunia harus tahu bahwa mantanmu adalah orang terburuk didunia ini. Bukankah jauh sebelum itu terjadi, mantan itu pernah menjadi orang pilihan terbaik dalam hidup dan pernah mengisi hari-hari bersama.

Perpisahan hendaklah dibuat sebagai sebuah pelajaran hidup. Siapa-pun tidak menginginkan perpisahan, siapapun yang menceraikan atau menggugat cerai, barangkali disebabkan karena ke-egoisan pasangan, hidupnya menderita, namun selama itu pula, pasangan belum bisa untuk memahami. Selama itu, pasangan sudah memberikan tanggung jawab dan kasih sayang, memang sakit ketika pengorbanan dan usaha itu tidak dihargai orang lain apalagi itu dilakukan pasangan sendiri. Kemungkinan orang yang tidak menghargai pasangan, ia akan menyesal di kemudian hari dan harus menyiapkan mental dan juga mengambil sikap untuk menghadapi hal tersebut. Ada yang mencintai seseorang dengan tulus, padahal orang yang dicintai itu tidak terlalu mencintai. ada juga yang rela berkorban dengan orang lain, padahal orang itu tidak meminta.

Mengakui kesalahan adalah sebuah sikap sangat terpuji, ada baiknya pengakuan itu disampaikan melalui permohonan maaf secara terbuka kepada mantan dan keluarganya serta mengubah perilaku. Namun apabila semuanya sudah terlanjur berpisah, maka hargailah keputusan itu. Allah Maha Kuasa dan Maha Membolak-balikkan hati manusia. Apabila memang masih bisa disambungkan Allah akan membuka jalan, seandainya memang ditakdirkan Allah SWT untuk bercerai, semoga masing-masing sanggup untuk bisa menerima kenyataan serta diberikan jodoh yang lebih baik.

Siapapun tidak boleh lama dalam kesedihan karena perpisahan akan mengganggu secara psikologis. Setelah semua selesai, segera berbenah diri dan tataplah masa depan yang lebih optimis, mulailah kehidupan baru dan semoga Allah SWT membuka jalan dan memudahkan segala urusan. Ambil hikmah dari semua kejadian, apabila mantan sudah menemukan jodoh, ikhlaslah menerimanya, begitupun sebaliknya apabila kita telah memiliki pasangan baru maka terimalah segala kekurangan dan kelebihannya, banyak bersyukur karena tujuan pernikahan adalah dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.

chaca 2

Salsabila Khansa Putri Rohendi.

Anak-ku .. tidak ada janji untukmu, hanya mereka-lah yang sangsi .. tidak ada dimulai dan berakhir, melainkan tanggungjawab-ku atas titipan mungil ini.

Entri ini ditulis dalam Tak Berkategori oleh . Buat penanda ke permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *