Pimpinan Ko Melempem ?

Apabila pimpinan dipegang oleh seseorang yang masih muda, perempuan atau terlihat tidak meyakinkan seringkali ada anggapan bahwa kapabilitas dan kekuatan karakter maupun skill dalam melaksanakan tanggungjawab akan selalu dipertanyakan. Ada pikiran skeptis dikalangan luas bahwa seperti demikian itu belum layak untuk memimpin. Image yang melekat dan cenderung menjadi stereotype adalah bahwa pemimpin itu haruslah yang senior, dari kaum pria, pintar, berpengalaman, atau penampilan fisik yang meyakinkan.

Padahal, jika melihat realitas saat ini, banyak contoh pimpinan yang sukses membangun bisnis, karier baik dan mampu bertahan dari terpaan masalah internal dan eksternal, hingga akhirnya membawa organisasi menuju keberhasilan. Mereka juga seringkali memiliki stamina dan pemikiran-pemikiran yang cemerlang yang sebenarnya mampu mendongkrak stigma bahwa senior-lah yang dapat  memimpin lebih baik. Kedewasaan atau kematangan seseorang bukanlah ditentukan oleh usia atau sebatas senior-junior, melainkan pada kematangan emosi dan karakter.

Namun adakalanya berbagai kekhawatiran tersebut mungkin saja memang terjadi setelah melihat hasil dari cara mereka memimpin. Hal ini menunjukkan bahwa kekhawatiran tersebut mungkin saja benar adanya. Banyak pemimpin diawal cukup piawai dan meyakinkan dalam menjalankan organisasi namun ternyata memiliki karakter kepemimpinan yang melempem (tidak matang benar atau lembek), misalnya ahli dalam strategi bisnis, memiliki ide-ide yang brilian, keterampilannya dalam berbagai hal terus berkembang, namun ia tidak bisa mengendalikan emosi, tidak bisa membangun hubungan dengan karyawan, tidak bisa berperan sebagai mentor.

Semua sikap itu menunjukkan seorang pemimpin yang belum mature secara utuh. Sebab, idealnya seorang pemimpin bukan hanya matang jiwanya, tapi juga cara memimpinnya, tingkat intelektualitasnya, gaya-nya terhadap penyelesaian masalah, kekuatan spiritualitasnya dsb. Beberapa contoh pemimpin yang belum siap untuk memimpin dilihat dari beberapa faktor antara lain :

Sikap

Kedewasaan seorang pemimpin akan tercermin dalam perilakunya sehari-hari. Pemimpin yang ikhlas dalam menjalankan tugasnya akan bekerja keras tanpa pamrih. Sebaliknya pimpinan yang melempem akan menyalahgunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi, tidak jujur, dan kurang bertanggung jawab pada setiap hal yang menjadi kewajibannya alias cari kesalahan bawahan. Dengan sikapnya yang tidak peduli, ia tidak akan dihormati dan dicintai oleh anak buahnya. Tidak tegas dalam memimpin menjadi cemoohan bagi bawahannya.

Emosi

Pemimpin yang EQ (Emotional Quotation)-nya kurang, mereka belum memiliki kemampuan mengelola perasaannya dengan baik. Sikapnya cenderung kurang tenang, tidak stabil, berjiwa pengecut, tinggi hati, dan tidak mampu membina hubungan baik dengan atasan terutama yang terlihat dengan bawahan. Pemimpin yang kurang matang selalu mengedepankan emosinya manakala menghadapi masalah. Akibatnya ia akan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa berdasarkan penilaian subyektif dan akhirnya berbuah kesalahan. Bagaimana seorang menyikapi, merespon, dan bereaksi terhadap suatu keadaan dapat menunjukkan tingkat kedewasaan yang ia miliki sekaligus menentukan kadar interaksi sosialnya. Pemimpin yang mudah emosi, egois, asosial, dan selalu berpikir negatif akan membuat suasana kerja menjadi tidak nyaman bagi bawahan, sehingga pada akhirnya dapat mengganggu suasana yang kondusif dan produktifitas kerja.

Respect

Ini merupakan perpaduan antara kematangan sikap dan emosi. Salah satu isu terbesar dalam kepemimpinan adalah rasa hormat (respect). Penyebab utama kehancuran sebuah pemerintahan, perusahaan atau pekerjaan bukan terletak pada siapa pimpinannya, melainkan seberapa tinggi respect yang diberikan mereka kepada pimpinannya. Kehancuran utama sebuah perusahaan bukan terletak hanya pada kinerja para SDM-nya, tetapi dimulai dari seberapa besar respect yang diberikan oleh para pimpinan kepada para bawahan, begitu-pun sebaliknya. Kegagalan kepemimpinan tidak disebabkan dari perselisihan-perselisihan besar atau kesalahan-kesalahan fatal, melainkan seberapa besar respect yang diberikan pimpinan kepada bawahan, dan utamanya respect bawahan kepada pimpinan.

Intelektual

Tidak berarti bahwa ia harus genius dan memiliki IQ tinggi. Maksudnya adalah tidak ada kemampuan dan kemauan untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Ia tidak mampu dalam mengidentifikasi permasalahan, kesulitan dalam memilih alternatif, dan akhirnya salah dalam membuat keputusan terbaik bagi organisasi. Mereka cukup lamban dalam menguasai bidangnya, baik yang dicapai melalui jalur akademis maupun kurang berpengalaman.

Kekuatan

Pemimpin merupakan tumpuan bagi pengikutnya, namun apa jadinya jika seorang pemimpin bersikap lemah, maka anak buahnya menjadi goyah. Pemimpin yang seperti ini adalah orang-orang yang tidak memiliki mental kuat, tidak tahan banting, minim berdaya juang, ragu dalam ambil resiko dan mencari zona nyaman, serta patah semangat. Dalam sikapnya terlihat loyo, kaku, dan tidak pintar dalam menempatkan diri.

Dedikasi

Dedikasi diartikan sebagai pengorbanan tenaga, pikiran, dan waktu demi keberhasilan suatu usaha atau tujuan mulia, pengabdian (untuk melaksanakan cita-cita yg luhur). Seseorang yang dipercaya sebagai seorang pemimpin atau atasan, serta-merta perlu memiliki dedikasi dan kerja keras dari bawahan atau pengikutnya. Pimpinan yang tidak mampu menunjukan kepada setiap bawahan bahwa ia adalah sosok pemimpin yang layak untuk mereka ikuti sebagai pemimpin, maka bawahan tidak akan bersedia mendedikasikan diri mereka sepenuhnya sebagai pengikut setia dalam kepemimpinannya. Satu hal yang paling tidak disenangi bawahan adalah atasan yang tidak hadir untuk membimbing ketika mereka mengalami kesulitan dalam pekerjaan, atau sulit hadir ketika masa-masa genting dan tidak bersedia membela mereka ketika mereka melakukan kesalahan, karena bagaimanapun juga, kesalahan bawahan adalah tanggungjawab pimpinannya.

Spiritual

Sebenarnya pemimpin yang matang secara spiritual dapat menjadi imam bagi para pengikutnya. Kepemimpinan seharusnya dianggap sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan sehingga tidak perlu menggunakannya dengan semena-mena. Ketidaktaatannya pada keyakinan (Agama) yang dianut tidak dapat diaktualisasikan dan diteladani anak buahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>