Modal Cuap-cuap, Laba Loby-loby

Kebiasaan buruk kita jika seseorang berbicara, lantas kita begitu gampang memotong pembicaraannya. Bagaimana jika kita bicara, akankah merasakan hal yang sama jika ada yang memotong pembicaraan. Biarkan lawan bicara, saingan, atau rekan kerja yang selalu menjengkelkan itu, menghabiskan terlebih dahulu apa yang ingin disampaikan. Itu adalah salah satu bentuk penghargaan. Carilah keseimbangan antara mendengarkan dan berbicara. Adakah seseorang yang cukup menjengkelkan hingga muak kita hingga ke ubun-ubun. Rasanya ganteng atau kurang jelek-pun tidak akan menjamin dan memperbaiki situasi.

Cukuplah kita menjadi pribadi yang tidak membosankan, jangan bercuap-cuap tentang berbagai kemahiran, keterampilan sendiri didepan rekan-rekan, atau hanya disitulah kelebihan kita yaitu cuma dalam berbicara saja alias pesilat lidah. Rata-rata orang tidak terlalu tertarik dengan cerita yang membosankan semacam itu, yang terlalu mengekspose kemampuan diri. Carilah topik yang mengarah pada hal-hal yang bergairah atau hal-hal yang lucu misalkan. Bisa juga Sobat menceritakan tentang pengalaman, diselingi guyonan menarik, barangkali itu bisa lebih baik. Intinya adalah sesuatu yang positif, bukan juga banyak keluhan.

Celakanya, ditengah cuap-cuap, itu banyak sekali hal yang mendatangkan negatif. Meski cuap-cuap adalah sama dengan berceloteh, bicara, ngobrol, ngomong santai. Cuap-cuap bisa dilakukan dengan teman bermain, sekolah, rekan kerja, guru, boss yang seolah membuat jarak kita dengan mereka menjadi akrab. Celakanya lagi, (yang tadi celakanya belum tuntas), sikap cari muka itu terkadang berhasil ketika berhadapan dengan boss yang sudah memiliki lebih dari satu muka.  Namun sebaliknya operasi cari muka sangat sukses apabila karyawan mempunyai Boss yang bermuka dua atau bermuka tiga bahkan lebih. Ada seorang tokoh atau dalam opera yang mempunyai stock muka lebih dari dua. Seperti pada salah satu kesenian khas negeri Tiongkok, yang bisa merubah muka. Magical Mask Change misalnya.

Dalam berceloteh, kita harus bijak, kita juga harus memusatkan perhatian pada kemampuan orang yang kita bicarakan. Carilah satu kelebihan dalam diri orang tersebut. Walaupun tampaknya dimata kita kemampuannya kecil dan kita masih bisa jauh lebih baik dari orang tersebut. Namun, cobalah bertanya pada diri sendiri, bagaimana bila kita berada diposisi orang yang kita bicarakan, tanpa mempertimbangkan sedikitpun perasaannya. Tidak ada yang lebih cepat tersebar di tempat kerja daripada bercuap-cuap. Sayangnya, kebanyakan dari kita tidak bermodal untuk bercuap-cuap, gosip, sindiran, politik kantor, berita miring, atau kabar angin. Seseorang menginginkan sobat fokus pada tugas pekerjaan yang menjadi alasan untuk dibayar.

Entah mengapa, ada dalam diri kita sikap serba ingin tahu mengenai sesuatu termasuk mengetahui kehidupan seseorang, yang justru cenderung untuk mencari-cari kesalahan orang lain. Lihat saja betapa mudahnya seseorang menuntut dan mengkritik orang lain. Sebenarnya boleh saja mengkritik teman atau siapa pun, tapi dalam menyampaikan kritik, saran atau sebuah koreksi, sebaiknya kita tetap menghormati orang yang kita kritik. Karena itu dalam menyampaikan informasi yang sifatnya sebuah koreksi, sebaiknya kita menyampaikannya dengan cara yang baik. Dan jangan pernah menyampaikan dengan cara yang langsung menyudutkan dan menyalahkan, tapi kemukakanlah pendapat kita dengan cara yang baik, santun dan bijak.

Kita sebagai umat Islam memang sudah sepatutnya untuk tidak mencari-cari kesalahan orang lain lalu cuap-cuap menyebarkannya apalagi berusaha mempermalukan orang tersebut didepan umum, dengan menggunakan ilmu dan kepandaian kita. Seorang ahli hikmah berkata, “lisan yang nista lebih membahayakan pemiliknya daripada membahayakan orang lain yang menjadi korbannya.” Hasil dari perbuatan baik tidak secara langsung dapat dinikmati. Akan tetapi, untuk melakukan perbuatan buruk begitu gampang bagi sebagian besar manusia. Hal ini disebabkan karena supporter, pendukung untuk melakukan perbuatan buruk begitu banyak, baik dari dalam diri maupun di luar diri manusia.

Bagi penguna sosial media mungkin tidak asing dengan istilah kontak dan grup. Inilah yang dapat meningkatkan kebiasaan untuk cuap-cuap. Jadilah teman atau kontak kalau yang kita invite menerima permintaan kita. Dengan masing-masing kontak kita bisa berkomunikasi personal. Sedang grup hampir mirip dengan milis dalam email. Biasanya ada grup alumni sekolah, organisasi, kerja dan lainnya. Dalam grup kita berkomunikasi dengan semua anggota grup. Jadi setiap postingan kita bisa dilihat oleh semua anggota grup. Di grup seperti grup bbm, bisa menerima postingan sekedar cuap-cuap. Anehnya ketika interaksi personal mereka masih bisa menjaga diri, tapi karena pada grup interaksi beramai-ramai sehingga terkadang tidak bisa menjaga batas. ketika di grup tiba-tiba semau sendiri.

Untuk hanya sekedar cuap-cuap di grup, ingin haha hihi tapi juga menyambung tali silaturahim dan tukar menukar info yang positif. Kejadian-kejadian negatif seperti itu bisa diminimalisir ketika pengguna perangkat komunikasi tetap mengindahkan etika dalam komunikasi. Apalagi pada grup muncul orang utama (boss), beretika dalam komunikasi seperti ini rasanya penting sekali, cuocok bagi pengguna yang senang mencari muka Sifatnya selalu mencoba menonjolkan diri secara terang-terangan. Jika ternyata ada pesaing yang menghalalkan segala cara dan memiliki tujuan negatif, hal pertama yang harus kita pastikan adalah tetap memiliki sudut pandang dan sikap hati yang bersih, karena dari situlah kita bisa memastikan bahwa kita tetap memegang rule persaingan yang sehat.

Mereka yang senang cuap-cuap demi mencapai kepentingan dan ambisi pribadi sebenarnya hanya memiliki kemampuan loby-loby, mencoba mencari perhatian lebih pemimpin, namun tanpa hasil kerja sama sekali. Sebenarnya masih banyak cara positif yang perlu diperhatikan, tetap tunjukkan etika kerja dan etika bergaul dengan pemimpin dan rekan kerja. Di sisi lain, kembangkan terus kapasitas, kemampuan kita dan tunjukkan progresifitas kerja kita. Pastikan kita terus belajar meningkatkan kualitas atau mutu kerja, sehingga dengan sendirinya, secara kasat mata kinerja tampak lebih bagus, namun dalam berkomunikasi lebih nyaman. Intinya dengan kemajuan tehnologi sekarang yang semakin smart dan simple, harus diikuti pula dengan perilaku yang smart dan safety.

Entri ini ditulis dalam Tak Berkategori oleh . Buat penanda ke permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *