Manajemen qanqqu

Bekerja pada perusahaan terbaik mungkin tak bisa dicapai oleh semua orang. Apalagi umumnya di masyarakat kita, bekerja di salah satu instansi pemerintah, atau sebagai aparat jelas menjadi idola semua orang. Disamping pekerjaan dan penghasilan tetap, promosi jabatan hingga perjalanan ke luar negeri utnuk alih-alih studi banding. Disamping masa depan jelas dan adanya masa pensiun yang terjamin. Tidak semua orang cukup gampang memasuki pekerjaan seindah dan sekeren tadi, bahkan tidak cukup dengan koneksi disana-sini, bahkan perlu merogoh kocek ortu segala untuk melancarkannya karena lewat mereka jalan itu bisa mulus semulus kulit yang sudah disuntik vitamin E.

Pada umumnya instansi atau badan usaha besar seperti BUMN atau BUMD tentu dikelola oleh oleh manajerial yang profesional. Mereka yang duduk pada jabatan tertentu, meskipun tingkat pendidikan sebelumnya kurang memadai, namun cukup waktu untuk bisa mengejar ketertinggalan, mereka bisa kuliah kejar paket tol, semua tergantung uang dan keadaan. Struktur organisasinya-pun kompleks dan sudah ada spesialisasi pekerjaan. Persentase kegagalan usaha relatif rendah, meski memang di beberapa seperti BUMN ada juga yang gulung tikar alias bangkrut, namun tidak terlalu seseorang menanggung semuanya seperti perusahaan kecil yang kepemilikannya secara pribadi, sehingga resiko akan ditanggung sendiri.

Bagi perusahaan yang relatif kecil, umumnya dikelola/dipimpin sendiri oleh pemiliknya. Struktur organisasinya-pun sederhana dan masih banyak perangkapan tugas/jabatan pada seseorang. Meskipun kepemimpinan akan diatur sendiri dengan kebijakan dikeluarkan secara otoriter, mereka akan mempercayakan seorang manager yang pandai memberi keuntungan bagi perusahaan. Disisi lainnya, banyak sekali masalah “pengaruh” di sekitar pekerjaan kita. Otoritas manajemen eksekutif tidak menjamin ia bisa diterima, disayang, di-“buy in” atau juga dikenang oleh orang di sekitarnya. Kita bisa patuh tanpa “menyukai” pada pemimpin kita.

Namun, ya setidaknya sobat tak sampai bekerja pada perusahaan yang tergolong terlalu buruk. Bukan berarti sebuah perusahaan tak memiliki tujuan. Perusahaan yang jelek tidak bisa memberikan sense of purpose pada karyawannya mengenai tujuan pekerjaan mereka. Setiap harinya karyawan hanya diperintahkan melakukan banyak pekerjaan, diganggu dengan pekerjaan baru kemudian pulang dan dibayar di awal bulan. Karyawan tak merasakan semangat mengejar tujuan besar bersama perusahaan. Gaji yang diberikan oleh perusahaan setidaknya harus memenuhi standar UMR (Upah Minimum Regional) atau disesuaikan dengan gelar yang dimiliki oleh karyawan bukan didasarkan karena keyakinan dan kepercayaan secara personal saja.

Perusahaan jelek hanya memikirkan keuntungan dan keuntungan saja. Jelas semua akan mengalir kepada sang pemilik perusahaan. Sementara manajemen dibuat bersusah payah membuat karyawannya belajar dan berkembang. Mereka hanya dibayar untuk bekerja. Tak ada niat untuk mengembangkan kemampuan karyawan demi berkembangnya perusahaan. Kepercayaan memegang suatu jabatan tanpa didasari kemampuan diketahui memiliki dampak besar pada karyawan. Pekerjaan karyawan menjadi tidak tenang karena semua ditinjau hanya dari satu sistem yang belum tentu bisa menjadi standar.

Kita selalu dihadapkan pada suatu permasalahan yang mengganggu. Permasalahan yang dihadapi terkadang berasal dari faktor internal ataupun eksternal. Salah satu masalah  yang berasal dari faktor internal atau berasal dari dalam diri karyawan/karyawati, misalnya: menurunnya kinerja kita, dan kurangnya disiplin kita yang membuat kita berada dalam masalah pekerjaan. Faktor eksternal kita adalah berasal dari lingkungan yaitu masalah dengan rekan kerja. Persaingan sering membuat kita berada dalam masalah, bahkan sampai menyepelekan prestasi rekan kerja.

Di dunia pekerjaan, mungkin akan banyak temui hal-hal yang ganggu diantaranya orang-orang yang memiliki sifat iri dengki. Tidak rela dengan kebaikan yang dimiliki orang lain. Ada banyak alasan orang untuk mendengki. Misalnya, iri dengki terhadap karyawan baru, gaji, posisi, atau jabatan rekan-rekan kerja yang lain. Seseorang yang memiliki sikap iri dengki merasa diganggu saat rekan kerjanya atau orang lain mendapat kebahagiaan, mendapat tambahan rezeki, jabatan naik, memperoleh proyek besar, mendapat penghargaan dari pimpinan atau teman-temannya.

Seseorang yang pernah bekerja pada sebuah pekerjaan atau instansi besar akan merasakan langsung perbedaan jika bekerja ditengah perusahaan kecil. Semua tampak dibuat serius dengan memberi kesan baik terhadap pimpinan. Manajemen didasarkan pada andil perasaan, suka tidak suka, punya masalah atau tidak dengan karyawan. Kita diganggu oleh perasaan tidak tentu. Berhati-hati bagi yang punya kebiasaan terlambat datang, tidak memberi kabar, atau tertangkap oleh pimpinan sedang keluar pada jam kantor. Seseorang akan merasa terus diganggu manajemen, meski sebenarnya dalam tugas pekerjaan tidak ada masalah.

Disitulah kita belajar, kita bisa total menjadi diri sendiri. Tanpa mesti berpura-pura pintar maupun bodoh. Segala sesuatunya kita sendiri yang mengatur dan merencanakan, tinggal Yang Diatas yang menentukan. Karena ketika kepentingan bertemu dalam satu atap, sudah bisa ditebak bahwa pada akhirnya seseorang yang cepat menyesuaikan diri adalah pemenangnya. Saat itu terjadi, seorang pegawai hanya memiliki dua opsi, tinggal sebagai penjilat atau keluar dari lingkaran setan dan melanjutkan hidup. Pada akhirnya akan kembali ke karakter dan prioritas masing-masing. Ada yang terpaksa tinggal karena tidak punya pilihan lain untuk menghidupi keluarga, ada yang berani mengambil resiko melewatinya. Ada pula yang memilih untuk “cari aman”, hanya saja sayangnya, hal itu jelas-jelas mengganggu.

Pilihan menjadi pengganggu ini entah mengapa selalu ada di sekeliling kita. Entah karena karakter tersebut memang sifatnya genetik atau memang ketularan dari pergaulan. Kenalilah mereka yang umumnya iri terhadap kesuksesan orang, cengengesan tanpa alasan, tidak enakan, selalu menganggukan kepala menanggapi pembicaraan dan yang paling mutlak adalah orangnya tidak konsisten dalam bersikap. Sisi negatif dari manusia pengganggu model ini ada dua hal yakni ia tidak bisa diandalkan dan sering ganggu dalam hal pekerjaan orang lain. Meskipun mengganggu, namun manusia-manusia jenis ini mesti dilestarikan keberadaannya. Di satu sisi bisa dijadikan aset, di sisi lain bisa dijadikan keset, disatu sisi menjadi pioneer, disisi lain cuoco untuk digendir .. yu!!

Entri ini ditulis dalam Tak Berkategori oleh . Buat penanda ke permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *