Kabut Asa Hingga Polusi Hati

Semua orang pasti mempunyai harapan di dalam kehidupannya. Mereka tentu berharap menjadi lebih baik dalam kehidupannya ini, baik di dalam keluarga dan pekerjaan. Tetapi faktanya yang kita hadapi adalah terkadang kita kehilangan arah hidup, kehilangan harapan hidup, kehidupan dan penghidupan yang sudah kita bangun. Harapan seseorang hilang bisa terjadi ketika hancurnya bahtera rumah tangga, karena pasangan hidup yang kita percayai, tidak lagi memiliki tujuan bersama dan biasanya dampak akhirnya adalah keputus-asaan atau depresi yang sangat kuat.

Terdapat banyak kisah pahit bisa kita amati dari sekeliling kita terutama tentang trend berumah tangga dimasa sekarang ini. Tak ada yang terlalu mengagetkan ketika kita mendengar rumah tangga seseorang hancur, pasangan suami istri bercerai, karena pola yang seperti itu hampir sudah menjadi trend masa kini. Kelihatannyanya masuk akal, apabila seseorang memutuskan berumah tangga hanya sebuah tantangan hidup. Jika kita memandangnya sebagai tantangan, tentu tidak akan memikirkan bibit, bebet dan bobotnya. Lantas bagaimana seandainya, justru suatu hari sudah merasa tak tertantang untuk melanjutkan. Apakah akan memikirkan bibit, bebet dan bobotnya?.

Walaupun menyengsarakan, ironisnya trend perceraian seakan kini menjadi hal biasa dalam masyarakat. Faktor yang paling besar salah satunya adalah adanya perselingkuhan, perselingkuhan adalah bentuk ketidaksetiaan suami terhadap isteri, atau sebaliknya. Hadirnya orang ketiga baik WIL (wanita idaman lain) maupun PIL (pria idaman lain) dalam suatu rumah tangga, merupakan indikasi adanya perselingkuhan. Meski hadirnya orang ketiga itu semula dirahasiakan, namun sejalan waktu, akhirnya akan terkuak juga. Kasus-kasus perceraian disebabkan perselingkuhan, terjadi seiring dengan proses modernisasi, yang berdampak pada perubahan tata nilai kehidupan. Dengan kian menipisnya etika moral dan agama masyarakat, pintu perselingkuhan semakin lebar terbuka.

Pernikahan itu bukan hal yang sederhana, menikah bukan hanya sekedar menyatukan dua orang tapi juga keluarga besar mereka. Bukan hanya akan menerima yang baik-baik saja namun akan bersama dalam suka maupun duka. Bukan karena pasangan kita hebat, luar biasa, begitu sempurna makanya mau menikahi dia, namun harus bisa menerima semua kekurangannya. Pernikahan itu diikat oleh sebuah ikrar suci dihadapan Allah, jadi tidak boleh dipermainkan, karena Tuhan telah menjadi saksinya. Bahwa apapun yang terjadi maka akan selamanya bersama sampai maut memisahkan.

Tuhan mampu memulihkan segala sesuatu, namun sering kali kita yang membuat jarak antara kita dengan-Nya. Polusi hati, mungkin karena kita merasa marah, dendam dan tak memaafkan menghambat asa dan doa kita. Allah akan memaafkan setiap kesalahan dan dosa-dosa kita, maka akui kehilafan serta meminta maaf-lah kepada pasangan yang pernah kita hianati. Allah berharap kita juga bisa memaafkan, maka maafkan dahulu orang yang berbuat salah pada kita. Maka Allah akan membuka jalan untuk setiap permasalahan dan perbaikan akan terjadi dalam hidup ini.

Sesuatu yang wajar apabila pasca perceraian, masih menyimpan harapan (asa) terhadap mantan pasangan. Asa untuk hidup hingga tua bersama pasangan diselimuti kabut, hal ini dapat menyebabkan perasaan kecewa yang sangat besar yang menyakitkan. Perasaan lain yang mungkin dialami adalah perasaan (hati) terhina atau perasaan marah dan kesal akibat perceraian.

Hingga polusi hati mungkin karena keras kepala, keras hati, gengsi terkadang membuat kita tidak mampu menyadari kebaikan pasangan dan memperlihatkan kebaikan kita, namun dengan hati yang lemah lembut akan menghilangkan kabut asa yang menyelimuti hidup kita. Bukan malah dengan sumpah serapah, caci maki, dan tangan di pinggang. Atau dengan mencari kuasa gelap untuk menyelesaikan permasalah kita. Karena yang gelap hanya akan menambah suram hidup kita dan Allah tidak berkenan atas perbuatan itu, karena itu adalah dosa besar.  Sehingga percaya saja, dengan menerima kenyataan dan berusaha memperbaiki atas semua kesalahan, Kehidupan akan berangsur-angsur membaik.

Anak merupakan korban yang paling terluka ketika orang tuanya mengalami perceraian. Anak bisa merasa ketakutan karena kehilangan sosok orang tua, takut kehilangan kasih sayang orang tua yang kini tidak tinggal serumah. Mungkin juga mereka tidak merasa bersalah dan menganggap diri mereka bukan penyebabnya. Anak-anak yang sedikit lebih besar bisa pula merasa terjepit di antara kedua orang tua mereka. Salah satu atau kedua orang tua yang telah berpisah mungkin dapat mempengaruhi sang anak agar membencinya. Ini dapat membuat anak menjadi serba salah, sehingga mereka tidak terbuka termasuk dalam masalah-masalah besar yang dihadapi ketika mereka remaja.

Pasca perceraian, salah satu pihak harus menjalankan peranan ganda sebagai ayah dan juga sebagai ibu. Ini bukanlah hal yang mudah karena ada banyak hal lain yang harus dipikirkan seorang diri. Terlebih, jika anak sudah memasuki masa remaja yang penuh tantangan. Dalam hal pengasuhan anak, ketika harus berbagi hak asuh anak dengan mantan pasangan karena bisa jadi, mantan masih merasa sakit hati dengan perlakuan mantan sehingga sulit untuk bersikap adil. Hal-hal yang harus dibicarakan seperti pendidikan atau disiplin anak mungkin dapat menyebabkan pertengkaran karena tidak sepaham dan rasa sakit hati dapat membuat suasana semakin buruk. Orang tua harus dengan masuk akal dapat menjaga dan memberikan disiplin kepada anak agar dapat tumbuh menjadi anak yang baik.

Tetapi bagi kita yang beriman kepada Allah, tidak ada harapan yang betul-betul hilang karena dengan keimanan-lah kita mendapatkan pengharapan yang sejati. Itu yang patut kita syukuri, selama kita diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini. Harapan atau asa adalah bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang diinginkan akan didapatkan atau suatu kejadian akan berbuah kebaikan di waktu yang akan datang. Pada umumnya harapan berbentuk abstrak, tidak tampak, namun diyakini bahkan terkadang, dibatin dan dijadikan sugesti agar terwujud.

Hanya seseorang yang terus memiliki harapan yang akan berpikir untuk terus mewujudkannya, hanya seseorang yang memiliki harapan ia ingin menjadi lebih baik setiap harinya yang akan terus berusaha belajar agar lebih baik. Kehilangan harapan untuk memperbaiki hidup akan mempengaruhi semuanya hingga seseorang akan terus memiliki kabut asa hingga akhirnya mengakibatkan polusi hati. Hanya seseorang yang percaya bahwa ada solusi dari setiap masalah, yang akan berani menghadapi masalah dan siap mencari solusi jitu untuk mengatasinya. Itulah fungsi sebuah harapan, Tanpa adanya sebuah harapan, seseorang tidak akan berkembang ke arah yang lebih baik, memikirkan masa depan, atau bahkan memikirkan kemajuan dirinya,

Jangan pernah takut untuk bermimpi besar, milikilah harapan-harapan yang akan menjadikan hebat. Yang akan membuat sobat berusaha mewujudkan harapan-harapan, yang akan membuat berpikir untuk merancang dan mewujudkan masa depan yang lebih baik lagi. Jangan pernah berhenti untuk bermimpi, karena mimpi adalah hal termudah yang setiap orang mampu melakukannya, karena Jika kita berhenti bermimpi, kita telah kehilangan semua harapan. Oleh karena itu, perangi kabut asa yang mengganggu pandangan hidup kita, perbaiki hati agar terhindar dari masalah polusi hati.
Entri ini ditulis dalam Tak Berkategori oleh . Buat penanda ke permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *